Sabtu itu saya mulai melangkah dari rumah ketika jam menunjuk angka 16.00. Dua jam berlalu, senandung adzan magrib akhirnya menyambut saya di simpang dago. Para pasukan musikal dari kampus pertanian telah menunggu di institut tetangga. Beriring seribu langkah saya melaju ke arah mereka. Delapan belas lima lima, penunjuk waktu di pergelangan tangan ini menunjuk angka. Pelajaran pertama dari kunjungan UKM MAX!! IPB di ITB adalah ketepatan waktu. Sang ketua acara semula menginformasikan lewat SMS bahwa 18.45 acara akan dimulai. Benar saja, 10 menit berlalu, genderang musik stomp mengalun merdu diiringi cetus nada beatbox yang unik, saya pun bergabung bersama serdadu lain yang tiba setelah menempuh jarak berkilo dari kota hujan sejak siang tadi.

Gelaran musikal yang dimeriahkan para musisi dari salah satu institut teknologi di kota kembang itu bertajuk Ganesha Musik Event. Lantunan melodi malam itu tersaji dalam kemasan unik. Tak ada MC sepanjang acara, jeda pengisi acara diisi tampilan solo dari beberapa musisi kampus dengan senjata mereka masing-masing. Dentum bass, raung dostorsi gitar, hingga syahdu irama saxophone mengalun indah diantara band-band yang tampil dengan lagu orisinil mereka. Setelah disuguhi sajian musikal dengan range genre yang tidak terlalu lebar, audiens di lapangan basket CC itu dipuaskan oleh performa Monkey to Millionaire. Trio pejantan itu piawai menghasut penikmatnya untuk bernyanyi bersama. Mereka pun tak lupa menyisipkan prolog sebelum senjata pamungkas mereka bergaung. “Kalian pasti tau musisi yang sekarang ramai dibincangkan infotainment?” demikian Wisnu memulai khotbahnya. “Daripada bangga buntingin anak orang, mending dia benerin musiknya, bener ga?” retorika itu lalu menjelma menjadi sebuah mantra bertajuk “Replika”. “Replika” adalah tembang Monkey to Millionaire yang nampaknya paling banyak dikenal. Setelah sukses mengguyur malam dengan melodi dan ekspresi, mereka menutup pentas dengan aksi yang mengingatkan saya pada yang mulia Kurt Cobain. Polah Agan saat menusukkan pasak tala bassnya hingga drum set itu roboh membuat saya berpikir bahwa bukan tidak mungkin tiga jaka ini adalah titisan Nirvana. Seiring redupnya lampu dan distorsi, himpunan manusia di bibir panggung pun mulai memudar.

UKM APRES! ITB, demikian sang empunya acara menyandang nama, sebenarnya tidak melayangkan undangan ke UKM dari institut pertanian ini. Namun hadirnya acara tanpa syarat biaya masuk dan dilaksanakan organisasi serupa itu, mendorong 18 orang anggota MAX!! untuk hadir dan berdiskusi. Bukan forum formal memang, tapi obrolan santai di tengah acara bersama Yoyok yang menjabat ketua APRES! malam itu cukup memberi inspirasi bagi pergerakan musikal di kampus rakyat kita. Dari obrolan itu, terkuak beberapa fakta bahwa kendala organisasional yang dihadapi kedua UKM dari kampus berbeda itu ternyata serupa. Loyalitas, adalah PR bersama yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Selain itu kesamaan program kerja tahunan MAX!! dan APRES! pun semakin menarik untuk dibahas. Jika di IPB kita akrab dengan kata Music Corner, maka civitas musica ITB lebih nikmat dengan istilah Mustang atau Musik Petang. Selain berbagi cerita tentang kondisi apresiasi di kedua institusi, kami pun berbagi solusi dan saling memberi masukan dalam sektor upaya penggalangan dana, teknis pelaksanaan acara, dll. Di penghujung pertemuan, kami sempat berfoto, dan kawanan serdadu dari kota hujan pun sempat menghaturkan terima kasih melalui pemberian plakat dan bonus 2 keping CD kompilasi. Tunggu dulu, senandung silaturahmi malam itu belum berakhir. Setelah berucap selamat tinggal pada panitia, kami bersua bersama Monkey to Millionaire, bahkan mereka sempat membubuhkan tanda tangan beserta ucapan penyemangat di kaos kebanggan MAX!!. Dari momen itu pula kami tahu bahwa sang manager adalah salah satu editor majalah Rolling Stone yang launching party-nya bulan ini sempat kami hadiri. Bahkan secara personal, Monkey to Millionaire mengundang kami untuk hadir di penampilan mereka berikutnya di Bogor Nirwana Residence dan hadir pula di Rolling Stone Release Party di hari kedua bulan depan. Setelah puas dengan pengalaman sosial-musikal di ITB, giliran perut kami yang merasakan nikmatnya rasa kenyang.


Bersama Monkey to Millionaire


Penyerahan Cinderamata


Di Rest Area


Baga Adi Tiawan, Kapten Perjalanan Kami


Suasana Panggung


Untuk Yang Ikut Tapi Tak Hadir di Foto Ini: Mufff (Dengan Intonasi Pengucapan Khas Denissa)


“APRES! ITB dan MAX!! IPB: untuk apresiasi musik yang maksimal”, Demikian tulis seorang anggota APRES! dalam testimoniya

ditulis oleh : Rheza Ardiansyah


Comments

1 Comment so far

  1. retnolaras on July 22, 2010 3:04 pm

    ayoo…
    kapan jalan2 lagi?

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind