PERSONAL DATA
Name : Mauliyawan Ilham
Place/Date of birth : Bogor, August 29th 1991
Gender : Male
Height/Weight : 176 cm/66 kg
Address : Perumahan Taman Duta Jl. Palem I Blok D6 No.16 Cimanggis Depok 16416
E-mail Address : iam_freakiouz@yahoo.com
Phone (mobile) : 085691169281
Marital Status : Single
Religion : Moslem
Interest : Music, football, science and otomotif

EDUCATION
1997-2003 SDN 12 Mekar Jaya 31 Depok
2003-2006 SMPN 7 Depok
2006-2009 SMAN 99 Cibubur Jakarta Timur
2009- Teknik Sipil dan Lingkungan FATETA IPB

EXPERIENCE
Non organization:
• Guitarist of Indie Band “Death Whisper” who be as an opening band for “Super Glad” and “Pewee Gaskins” at Pentas Seni SMAK Selamet Riadi Jakarta
• “Puppets” guitarist
• “Orpheus” guitarist
Organization:
• FORZA Football Club SMPN 7 Depok 2006-2008
• S2R (Sanggar Seni Remaja) SMAN 99 Jakarta
o 2006-2007 : Member
o 2007-2009 : Committee and Electric Guitar Tutor, and Crew of Music Taman SMAN 99 Jakarta
o 2008 : Crew leader of SMAN 99 Band Competition
• MAX!! 2009-
o 2009- : Member
o 2010 : LO of Yuri Honing Acoustic Quartet, and Co. MAX!! Compilation Album Vol. 3
ABILITIY
I am familiar with guitar especially electric guitar and music organization. I can play guitar since 2006, exactly when I at the first grade of senior high school. And in the 2007, my music supervisor in the art organization of SMAN 99 Jakarta, S2R (S2R), choose me as electric guitar tutor for all of my juniors. I almost being the crew leader on the music event of SMAN 99 Jakarta. So I’m really familiar with music organization since on the Senior High School.

MAX!! Pejuang Musik IPB

Institut Pertanian Bogor, itulah tempat para pejuang ini menuntut ilmu. Keseharian mereka sama seperti mahasiswa penyuka music pada umumnya. Belajar, gaul di tempat tongkrongan sekitar kampus atau kontrakan teman, ngeband, bikin acara music beberapa bulan sekali, dan masih banyak lagi yang terlalu panjang untuk disebut satu persatu. Ya, mungkin semua itu adalah hal biasa ketika kita membicarakannya di Universitas-universitas lain. Tapi tidak ketika kita berada di ruang lingkup IPB, hal yang tersebut, khusunya pada poin ke tiga dan ke empat masih merupakan sesuatu yang mereka perjuangkan hingga saat ini. Memperjuangkan agar musik, khususnya band, tak lagi haram.
Para pejuang ini tergabung dalam sebuah organisasi bertajuk “MAX!!”, Music Agriculture Expression. Hingga saat ini masih banyak kalangan “mayoritas” yang menganggap bermain musik adalah sesuatu yang buruk dengan alasan tidak bermanfaat, buang-buang waktu, membuat lupa ibadah atau bahkan karena musik itu mempengaruhi jiwa pendenganrnya ke arah yang buruk. Tetapi lucunya masih banyak kalangan “mayoritas” yang masih suka mendengarkan lagu-lagu pop alay masa kini meski mereka mengatakan musik itu haram. Hey, jikapun benar musik itu haram, bukankah mengkonsumsi produknya, seperti mp3, masuk kategori perbuatan dosa. Hal ini sama saja seperti mengharamkan ternak babi namun boleh makan daging olahannya. Dalam soal ibadah memang tidak ada jaminan semua musisi yang ada selalu meluangkan waktu untuk ibadah ketika sedang bermusik. Tapi penulis pikir jika memang seorang musisi itu mengaku musisi yang hebat tentu pintar dalam meluangkan sebagian dari waktunya untuk ibadah.
Bermain musik mereduksi proses belajar? Tentu tidak. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak pernah merasakan jenuh ketika belajar dan musik pun menjadi pelampiasan menghilangkannya, entah sekedar mendengarkannya ataupun bermain di studio. Tidakkah dari sekian banyak manfaat musik, tidak ada seorang pun yang merasakannya? Bahkan seorang tokoh besar dalam sejarah perkembangan agama islam, nabi Daud, memiliki mukjizat berupa musik. Menyebarkan ajaran agama dengan musik modern? Why not.
Banyak ilmu pengetahuan baru serta pemikiran-pemikiran bernada ilmiah dan logis yang penulis dapat dari para anggota MAX!!. Bahkan pemikiran ilmiah yang menyangkut soal agama. Seperti dikatakan K.H. Ahmad Dahlan, agama itu seperti music, mempengaruhi jiwa. Menurut penulis, seseorang dapat dikatakan musisi adalah ketika ia telah merasakan manfaat positif dan mampu menginterpretasikan musik sebagai karya seni penggugah jiwa yang mampu mengeluarkan manusia dari keadaan jenuh serta mempengaruhi kejiwaan manusia untuk melakukan sesuatu yang baik. Apakah hal tersebut dapat membuat musik jadi barang haram? Setidaknya inilah yang membuat penulis betah tergabung dalam MAX!!, logis, ilmiah, professional, tidak ada senioritas, seru, dan menyenangkan dalam bermusik. Menurut penulis tidak ada organisasi yang menerima anggotanya sebaik MAX!!. Bahkan jiwa pemberontak yang penulis miliki selama ini rasanya mampu diredam oleh MAX!!. Bahkan Datang untuk rapat MAX!! adalah sesuatu yang menyenangkan
Memperjuangkan musik di tengah-tengah kemelut ketabuan bukanlah hal yang mudah. MAX!! yang sudah berdiri secara legal sekitar 6 tahun (6 Desember 2004) ini terbilang hebat dengan jumlah anggota yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Ketabuan akan musik di IPB pun sedikit demi sedikit terkikis. Bahkan sekitar pertengahan tahun 2010, band dan nasyid mampu berkolaborasi dalam acara bertajuk kampus islami yang membahas hubungan musik dengan agama islam. Hal yang biasa tapi menjadi luar biasa bagi pecinta musik di IPB.
Sebelum MAX!! berdiri, bagi si “mayoritas” musik, khususnya band, music yang halal hanyalah musik yang dimainkan dengan rebana. Alasannya musik seperti itulah yang dimainkan pada zaman nabi Muhammad SAW. Lantas instrumen semacam gitar, drum, ataupun keyboard menjadi haram. Heyy, memangnya zaman nabi sudah ada drum set Tama, gitar Ibanez, ataupun keyboard Korg? Jika saja pada zamannya nabi sudah ada instrumen-instrumen tersebut dan rebana baru diciptakan abad 20, apakah rebana lantas menjadi haram? Apakah ketika zaman terus maju lantas pemikiran tentang musik dan instrumennya tidak boleh berkembang? Inilah pola pikir “mayoritas” civitas IPB yang harus di-evolusikan. Mengikuti pola hidup nabi bukan berarti pemikiran kita terhambat bukan. Nabi Muhammad dalam ajarannya justru mewajibkan kita untuk terus bereksplorasi. Setidaknya kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh salah satu musisi muallaf asal USA, Yusuf Islam. Menghasilkan musik berkualitas dengan instrument modern untuk kemudian mengalokasikan keuntungannya untuk pembangunan Bosnia pasca revolusi. Masih bisa dikatakan haram?
Mungkin ada segelintir musik keras yang berbau pemberontakan dan pembunuhan. Tapi bukan musik seperti itu yang penulis temui di MAX!!. Buat apa manusia dianugerahi otak jika tidak berpikir dan berkembang. Berpikir untuk membuang hal negatif dari musik, dan berkembang untuk terus mengeksplorasi musik dan manfaatnya. Apalagi jika kita membicarakannya di level institusi sekelas IPB dengan mahasiswanya yang terkenal kritis. Orang-orang yang berani melakukan hal ini penulis rasa layak untuk disebut “pejuang musik”. Orang-orang yang berani memperjuangkan musik di lingkungan penuh pandangan miring tentang musik ini penulis temukan di organisasi membanggakan tempat penulis tergabung di dalamnya, yaitu MAX!!, Music Agriculture Expression!!
Setelah perjuangan membesarkan musik di IPB selama lebih dari 8 tahun, yakni dari sebelum MAX!! berdiri secara legal (masih berupa komunitas), akhirnya berbuah manis dengan semakin membesarnya kepercayaan pihak rektorat IPB kepada MAX!!. Setidaknya sudah empat kali konser musik elegan yang dibintangi oleh musisi berkelas internasional berhasil dilaksanakan di IPB dengan anak-anak MAX!! sebagai panitianya. Boi Akih, Mike Del Ferro, Aurelia Saxophone Quartet, dan Yuri Honing Acoustic Quartet telah menuliskan namanya dalam catatan perjalanan MAX!!. Hal ini kian mengembangkan semangat anak-anak organisasi yang tidak mengenal senioritas ini. Meski tak dapat dipungkiri juga banyak acara yang direncanakan oleh MAX!! namun tidak berhasil dilaksanakan, tidak berhasil dalam tanda kutip. Satu kepercayaan yang mereka bawa bersama, percaya bahwa musik yang mereka kembangkan itu baik. Clean dan distorsi bersatu menyerukan kebenaran akan kebaikan musik. Jazz dan metal tak lagi ada hijab menentang arus kolotnya pemikiran si “mayoritas”. Musik universal, musik untuk semua, musik untuk kebaikan, inilah perjuangan MAX!!.
MAX!! tidak pernah menyerah meski sulit mendapatkan pengakuan secara luas di IPB. Dianggap remeh dan ekslusif (hanya untuk kalangan tertentu) menjadi hal yang biasa didengar dalam berorganisasi. Proposal yang sulit menembus rektorat, panggung musik di lingkungan kampus yang kerap diusir oleh “anggota dewan” mahasiswa, ataupun dikucilkan dari ruang lingkup UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) kampus tak menghalangi tekad para pejuang musik ini membesarkan seni bernada suara ini di IPB. MAX!!, dibangun dari berbagai nada yang berbeda, variasi tone tak setara, selera telinga berbeda, tapi tetap satu dahaga. Dahaga akan paduan suara instrumen musik dan manusia.

MAX!!
ASSOOYY…


Comments

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind